Recent Posts

Pages: 12 3 ... 10 next page
1
Tazkirah & Muhasabah / Muhasabah: Demonstrasi - Kisah Ashabul Ukhdud
« Last post by Abu Fahim on 26.04.2012, 11:17:26 AM »
Assalamu'alaikum Wrt. Wbt.

Segala puji bagi Allah SWT yang menurunkan kepada para hambaNya kitab Al-Quran yang tiada padanya keraguan atau kesesatan melainkan orang-orang yang mempelajarinya tanpa berguru dengan yang hak. Selawat dan Salam ke atas Nabi kita dan Tuan kita Nabi Muhammad SAW, doa yang menyelamatkan kita di dunia dan akhirat, juga ke atas sekelian ahli keluarga, para sahabat dan sekelian pengikut Baginda SAW sehingga ke hari pembalasan kelak.


Para pembaca yang budiman,

Topik muhasabah kali ini berkisar tentang permasalahan semasa yang seringkali menjadi persoalan, pertikaian dan perbalahan. Semoga kita semua dapat bermuhasabah dan diberikan petunjuk oleh Allah SWT ke arah jalan yang lurus lagi diberikan nikmat ke atas mereka seperti jalan para Nabi, Siddiqin, Syuhadak dan orang-orang Soleh sekeliannya. Amin.

= Artikel Bermula =
Kisah penuh Ashabul Ukhdud (Sahih Imam Muslim):

(Perhatian: Terjemahan ini adalah untuk kefahaman asas , adapun untuk kefahaman yang lebih tepat sila rujuk teks Arab)

Dari Suhaib r.a. menyatakan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

Di masa dahulu ada seorang raja (Yahudi) yang mempunyai seorang yang ahli sihir, kemudian ketika ahli sihir telah tua ia berkata kepada raja tersebut: "Kini aku telah tua dan mungkin telah dekat ajalku, karana itu kau kirimlah kepadaku seorang pemuda yang dapat aku ajarkan kepadanya ilmu sihir".

Maka raja itu berusaha mendapat seorang pemuda untuk mempelajari ilmu sihir itu, sedang di tengah jalan antara tempat ahli sihir dengan rumah pemuda itu ada tempat seorang ahli ibadah yang mengajar agama, maka pada suatu masa pemuda itu singgah di tempat pendeta itu untuk mendengarkan pengajiannya, maka ia tertarik dengan ajaran pendeta itu sehingga jika ia terlambat datang kepada ahli sihir dia akan dipukul, dan bila terlambat kembali ke rumahnya juga dia dipukul, maka ia mengadu tentang kejadian itu kepada pendeta.

Maka diajar oleh pendeta itu: jika terlambat datang kepada ahli sihir supaya berkata aku ditahan oleh ibuku, dan bila terlambat kembali ke rumah katakan: Aku ditahan oleh ahli sihir.

Maka berjalan beberapa lama kemudian itu, tiba-tiba pada suatu hari ketika ia akan (hendak) pergi, mendadak (tiba-tiba) di tengah jalan ada seekor binatang buas sehingga orang-orang (ramai) tidak berani jalan di tempat itu, maka pemuda itu berkata: "Sekarang aku akan mengetahui yang mana lebih yang lebih baik di sisi Allah apakah ajaran pendeta atau ajaran ahli sihir", lalu ia mengambil sebutir batu dan berdoa "Ya Allah jika ajaran pendeta itu lebih baik di sisimu maka bunuhlah binatang itu supaya orang-orang dapat lalu lalang di tempat ini". Lalu dilemparkanlah batu itu, dan langsung terbunuh binatang itu. Dan orang ramai gembira karena telah dapat lalu lintas di jalan itu.

Maka ia terus memberitakan kejadian itu kepada Rahib (pendita), maka berkatalah Rahib itu kepadanya: "Anda kini telah afdhat (pesan) daripadaku, dan kau akan diuji, maka jika diuji jangan sampai menyebut namaku". Kemudian pemuda itu dapat menyembuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit yang berat-berat pada semua orang.

Ada seorang pembesar dalam majlis raja dan dia telah buta karena sakit mata, ketika ia mendengar berita bahwa ada seorang pemuda dapat menyembuhkan pelbagai macam penyakit maka ia segera pergi kepada pemuda itu sambil membawa hadiah yang banyak, sambil berkata: "Sembuhkan aku, dan aku sanggup memberikan kepadamu apa saja yang kau suka".

Jawab pemuda itu: "Aku tidak dapat menyembuhkan seseorang pun sedang yang menyembuhkan hanya Allah azza wajalla, jika engkau mahu beriman (percaya) kepada Allah, maka aku akan berdoa semoga Allah menyembuhkan mu".

Maka terus dia beriman kepada Allah dan didoakan oleh pemuda dan seketika itu juga dia sembuh dengan izin Allah s.w.t.

Kemudian ia kembali ke majlis raja sebagaimana biasanya, dan ditanya oleh raja: "Hai Fulan siapakah yang menyembuhkan matamu?", jawabnya: "Rabbi (Tuhanku)". Raja bertanya: "Aku?", jawabnya: "Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu iaitu Allah". Ditanya oleh Raja: "Apakah kau mempunyai Tuhan selain Aku?", jawabnya: "Ya, Tuhan ku dan Tuhanmu ialah Allah". Maka disiksa oleh raja seberat-beratnya siksa sehingga terpaksa ia memberitahu raja itu akan pemuda yang mendoakannya untuk sembuh itu.

Maka segera dipanggil pemuda itu lalu berkata: "Hai anak sungguh hebat sihirmu sehingga dapat menyebuhkan orang buta dan sopak dan berbagai macam penyakit", jawab pemuda itu: "Sesungguhnya aku tidak dapat menyembuhkan siapa pun, hanya semata-mata Allah azza wa jalla". Raja itu pun bertanya: "Adakah aku?", "Tidak" jawab permuda itu. Maka tanya raja itu: "Adakah engkau ada tuhan lain selain aku?", jawab pemuda: "Ya, Tuhanku dan Tuhanmu hanya Allah". Maka pemuda itu ditangkap dan disiksa seberat-beratnya sehingga terpaksa dia menunjukkan pada Rahib yang mengajarnya. Maka dipanggil Rahib dan dipaksa untuk meninggalkan agamanya, tetapi Rahib tetap bertahan dan tidak mahu beralih agama, maka diletakkan gergaji di atas kepalanya dan digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah dua badannya.

Kemudian kembali pemuda itu diperintah untuk meninggalkan agama yang dianutnya (agama Islam), tetapi pemuda ini juga menolak perintah raja, maka raja memerintahkan supaya pergi ke puncak gunung dan di sana juga supaya ditawarkan kepadanya untuk meninggalkan agamanya dan mengikuti agama raja, jika tetap menolak supaya dilempar dari atas gunung itu, maka ketika telah sampai di atas gunung dan ditawarkan kepadanya pemuda untuk berubah agama, dan ditolak oleh pemuda itu. Kemudian pemuda itu berdoa: "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta: (Ya Allah selesaikanlah urusanku dengan mereka ini dengan aku sehendak-Mu)". Tiba-tiba gunung itu bergoncang sehingga mereka berjatuhan dari atas bukit dan mati semuanya.

Maka segeralah pemuda itu kembali menemui raja, dan ketika ditanya: "Manakah orang-orang yang membawamu?", jawabnya: "Allah yang menyelesaikan urusan mereka". Lalu pemuda itu diperintah untuk membawanya ke laut dan naik perahu, bila telah sampai di tengah laut ditanyakan padanya jika ia mahu mengubah agama, jika tidak maka lemparkan ke dalam laut dan ketika telah sampai di tengah laut pemuda itu berdoa: "Allahumma ikfinihim bimaa syi'ta", maka tenggelamlah orang yang membawanya semuanya dan segeralah pemuda kembali menghadap raja. Dan ketika ditanya oleh raja: "Bagaimana keadaan orang-orang yang membawamu?", jawabnya: "Allah yang menyelesaikan mereka".

Kemudian pemuda itu berkata kepada raja: "Engkau takkan dapat membunuhku kecuali jika engkau menurut perintahku maka dengan itu engkau akan dapat membunuhku", Raja bertanya: "Apakah perintahmu?", Jawab pemuda: "Kau kumpulkan semua orang di suatu lapangan, lalu engkau gantung aku di atas tiang, lalu kau ambil anak panah milikku ini dan kau letakkan di busur panah dan membaca: Bismillahi Rabbil ghulaam (Dengan nama Allah Tuhan pemuda ini), kemudian kau lepaskan anak panah itu, maka dengan itu kau dapat membunuhku", Maka semua usul pemuda itu dilaksanakan oleh raja, dan ketika anak panah telah mengenai pelipis pemuda itu ia mengusap dengan tangannya dan langsung mati, maka semua orang yang hadir berkata: "Aamannaa birrabil ghulaam (Kami beriman kepada Tuhannya pemuda itu)". Sesudah itu ada orang memberitahu kepada raja bahawa semua rakyat telah beriman kepada Tuhan pemuda itu, maka bagaimanakah usaha untuk menghadapi rakyat yang banyak ini. Maka raja memerintah supaya di setiap jalan digali parit dan dinyalakan api, dan tiap orang yang berjalan di sana, dan ditanya tentang agamanya, jika ia tetap setia pada kami biarkan, tetapi jika ia tetap percaya kepada Allah masukkanlah ia ke dalam parit api itu.

Maka adanya orang berbaris-baris, dorong mendorong yang masuk di dalam parit api itu, sehingga tiba seorang wanita yang menggandong (membawa) bayinya yang masih menyusu, ketika bayinya diangkat oleh pengikut-pengikut raja untuk dimasukkan kedalam parit berapi itu, wanita itu hampir menurut mereka berganti agama karena sangat belas kasihan pada anaknya yang masih kecil itu, tiba-tiba anak bayi itu berbicara dengan suara lantang: "Sabarlah hai ibuku karena kau sedang mempertahankan yang hak".
= Artikel Tamat =

Para pembaca yang dirahmati Allah sekelian,

Hendaknya kita selalu insaf akan segala kelalaian, kesilapan dan kesalahan kita dan senantiasalah bermuhasabah dan memperbaiki diri kita! Semoga Allah SWT melindungi kita semua daripada lalai dan leka, juga daripada maksiat dan berdosa.

Senantiasalah kita bertaubat kembali kepadaNya dan mengajak sekelian ahli keluarga serta masyarakat kita bersama-sama bertaubat kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang berjaya di dunia dan akhirat senantiasa memeriksa diri dan perbuatan mereka, kemudiannya memperbaiki diri, keluarga dan masyarakatnya, serta memastikan segalanya senantiasa berada di jalan yang lurus lagi diredhai Allah SWT.

Allahu Wa Rasuluhu A'lam.
2
Tazkirah & Muhasabah / Muhasabah: Kelebihan Nabi Di Sisi Ulamak Terdahulu
« Last post by Abu Fahim on 09.08.2011, 12:52:36 PM »
Assalamu'alaikum Wrt. Wbt.

Segala puji bagi Allah SWT yang menurunkan kepada para hambaNya kitab Al-Quran yang tiada padanya keraguan atau kesesatan melainkan orang-orang yang mempelajarinya tanpa berguru dengan yang hak. Selawat dan Salam ke atas Nabi kita dan Tuan kita Nabi Muhammad SAW, doa yang menyelamatkan kita di dunia dan akhirat, juga ke atas sekelian ahli keluarga, para sahabat dan sekelian pengikut Baginda SAW sehingga ke hari pembalasan kelak.


Para pembaca yang budiman,

Topik kali ini dipetik daripada laman web Yayasan Sofa oleh panel penyeldikan mereka. Semoga kita semua diberikan petunjuk oleh Allah SWT ke arah jalan yang lurus lagi diberikan nikmat ke atas mereka seperti jalan para Nabi, Siddiqin, Syuhadak dan orang-orang Soleh sekeliannya. Dan semoga kesemua amal ibadat dan puasa kita semua diterima oleh Allah SWT keseluruhannya. Amin.


= Artikel Bermula =
As-Syeikh Ibnu Al-Qayyim, yang dijadikan rujukan utama sesetengah aliran dalam Islam, pernah meriwayatkan keistimewaan Nabi Muhammad SAW yang sangat ajaib dan pelik. Beliau menisbahkan atau menyandarkan riwayat itu kepada sejumlah ulama salaf. Beliau menyatakan: "Telah berkata al-Qadhi, Al-Marwazi telah menyusun sebuah kitab mengenai kelebihan Nabi Muhammad, Di dalamnya beliau menyebut bahawa Nabi Muhammad duduk di atas 'Arasy.

Katanya lagi: "Aku berkata Ia adalah pendapat Ibnu Jarir al-Tobari dan imam mereka, Mujahid, seorang imam Tafsir. Ia juga adalah pendapat Abu al-Hasan al-Dar Qutni."

Di antara syairnya, berbunyi: "Hadis syafaat itu daripada Ahmad (ibn Hanbal), kepada Ahmad al-Mustafa sampai sanadnya. Diriwayatkan juga hadis, bahawa baginda duduk di atas 'Arasy, maka janganlah kita mengingkarinya. Biarkanlah hadis itu seadanya. Janganlah kalian mencampuradukkan di dalamnya apa-apa yang boleh merosakkannya. Janganlah kalian mengingkari bahawa baginda duduk dan jangan kalian mengingkari bahawa baginda didudukkan di atas ('Arasy). ( Ibnu al Qayyim, Badai' al Fawaid, Jld 4, H: 40).

Al-Faqih al-'Allamah Syeikh Mansur ibn Yunus al Buhuti RH dalam kitabnya, Kashsyaf al Qina, mengungkapkan sejumlah keistimewaan Nabi Muhammad yang kadang kala dianggap ganjil oleh kebanyakan orang yang kurang memahami prinsip-prinsip dan kaedah-kaedah perkara seperti itu.

Antaranya, beliau menyatakan: "Kumuhan yang keluar daripada kita adalah najis dan kumuhan yang keluar daripada Rasulullah SAW adalah suci. Begitu juga kumuhan para Nabi yang lain. Diharuskan juga berubat dengan air kencing dan darahnya, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Dar Qutni bahawa Ummu Aiman pernah terminum air kencingnya. Rasulullah bersabda: "Sekiranya begitu, api neraka tidak akan memakan perut kamu." Tetapi hadis ini dha'if.

Seperti mana yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Dhua'fa': "Suatu hari, seorang budak membekam Nabi. Maka setelah selesai berbekam, dia meminum darah bekaman tersebut. Maka sabda Rasulullah SAW, "Celakalah kamu, apakah yang telah kamu lakukan dengan darah tadi?" Katanya: "Aku telah melenyapkan di dalam perutku."

Sabda Rasulullah: "Pergilah kamu, sesungguhnya kamu telah menyelamatkan diri kamu daripada api neraka."

Al-Hafiz Ibnu Hajar RA berkata: "Rahsia daripada peristiwa tersebut, adalah kerana perbuatan dua Malaikat yang pernah membasuh dada baginda sehingga dihukumkan suci segala kumuhan daripada jasad Nabi.

Di antara lain, beliau juga berkata: "Rasulullah tidak mempunyai bayang-bayang ketika berada di bawah pancaran matahari dan bulan kerana Rasulullah adalah cahaya, sedangkan bayang-bayang adalah suatu kegelapan."

Perkara ini disebut oleh Ibnu 'Uqail dan lain-lainnya: "Ini berdalilkan, bahawa Rasulullah pernah memohon kepada Allah agar menjadikan seluruh anggota dan arah jasadnya bercahaya, dan baginda pernah mengakhiri doanya dengan sabdanya: "Jadikanlah aku cahaya."

Selain itu, bumi juga menarik segala bebanan beratnya, berdasarkan beberapa khabar.

Antaranya beliau mengatakan: "Kedudukan terpuji (yang dijanjikan Allah kepada baginda Rasulullah)" ialah duduknya Rasulullah di atas 'Arasy. Daripada Abdullah ibn Salam menyatakan di atas kurs' sebagaimana al Baghawi juga menyebut mengenai kedua-duanya."

Antaranya, beliau juga memperkatakan Rasulullah tidak pernah menguap.

Beliau juga berkata: "Baginda juga diperlihatkan kepadanya semua makhluk semenjak dari zaman Nabi Adam hinggalah umatnya yang hidup selepasnya, sebagaimana Nabi Adam diajari nama-nama segala sesuatu, berdasarkan hadis riwayat al Dailami: "Dunia ini diumpamakan kepadaku dengan air dan tanah, maka aku mengetahui tentang semua perkara seperti mana Nabi Adam mengetahui semua nama."

Diperlihatkan juga kepada baginda seluruh umat, sehingga baginda dapat melihatnya. Hal ini berdasarkan riwayat Imam al Tabrani: "Diperlihatkan kepadaku umatku semalam di bilik ini. Orang yang mula-mula dan yang terakhir. Mereka semua digambarkan kepadaku dengan air dan tanah, sehingga aku mengenali seseorang insan di kalangan mereka lebih daripada seseorang kamu mengenali sahabatnya."

Diperlihatkan juga kepada baginda apa yang terjadi kepada umatnya sehingga hari Kiamat.

Ini berdasarkan hadis riwayat Imam Ahmad dan lain-lainnya: "Aku telah melihat peristiwa yang akan ditemui oleh umatku sesudah kewafatanku; begitu juga mengenai pertumpahan darah yang terjadi di antara mereka."

Antaranya beliau menyatakan: "Menziarahi maqam Nabi Muhammad adalah sunat (mustahab) sama ada bagi lelaki mahupun perempuan kerana umumnya hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Dar Qutni, daripada Ibnu Umar berkata, bahawa Rasulullah bersabda: "Barang siapa yang mengerjakan ibadah haji dan menziarahi kuburku selepas kewafatanku, seolah-olah dia menziarahiku ketika aku masih hidup (Demikianlah yang disebut di dalam kitab Kasysyaf al-Qinna', Jld 5, H: 30). Kitab ini dicetak atas perintah Malik Faisal ibn Abdul Aziz Aali Su'ud rahimahullah)

Kesemua keistimewaan yang mereka sebutkan dan naqalkan ini terdapat antaranya ada riwayat yang sohih. Ada yang dha'if dan ada pula yang sama sekali tidak mempunyai dalil.

Keistimewaan-keistimewaan Nabi Muhammad ini dinaqalkan oleh para ulama besar dari kalangan Ahli Sunnah dan mereka tidak menentangnya sedikit pun.

Bahkan, mereka menerimanya dan bertolak ansur dalam meriwayatkannya kerana berpegang kepada kaedah "toleransi" dalam menaqalkan (meriwayatkan) perkara-perkara yang berkaitan dengan kelebihan sesuatu perkara.

Sedangkan, dalam keistimewaan tersebut, terdapat perkataan-perkataan yang jika didengari oleh golongan penentang sudah tentu mereka memberikan hukuman yang lebih teruk daripada kafir.

Kesimpulannya keistimewaan-keistimewaan Rasulullah seperti yang dinaqalkan oleh Ibnul Qayyim, Ibnu Taymiyyah dan kitab Kasyaful al-Qinna' s tidak jauh berbeza daripada pandangan kami.

Maka adalah tidak adil jika pandangan pihak lain menjadi sasaran serangan dan kritikan tajam sedangkan pandangan ulama-ulama ikutan golongan yang mendakwa salafi ini tidak turut mereka sanggah.
= Artikel Tamat =


Para pembaca yang dirahmati Allah sekelian,

Hendaknya kita selalu insaf akan segala kelalaian, kesilapan dan kesalahan kita dan senantiasalah bermuhasabah dan memperbaiki diri kita! Semoga Allah SWT melindungi kita semua daripada lalai dan leka, juga daripada maksiat dan berdosa.

Hendaknya kita juga dapat bersama-sama merebut peluang-peluang keemasan yang begitu banyak terdapat di bulan Ramadhan yang penuh berkat lagi mulia ini. Semoga kita tidak akan menyesal di kemudian hari dan mendapat keuntungan yang besar di dunia dan akhirat.

Senantiasalah kita bertaubat kembali kepadaNya dan mengajak sekelian ahli keluarga serta masyarakat kita bersama-sama bertaubat kepadanya terutamanya di bulan Ramadhan Mubarak ini. Sesungguhnya orang-orang yang berjaya di dunia dan akhirat senantiasa memeriksa diri dan perbuatan mereka, kemudiannya memperbaiki diri, keluarga dan masyarakatnya, serta memastikan segalanya senantiasa berada di jalan yang lurus lagi diredhai Allah SWT.

Allahu Wa Rasuluhu A'lam.
3
[float=left][/float]
Assalamualaikum Wrt. Wbt.,

Makluman kepada semua yang berkenaan, satu Majlis Hol Sheikh Haji Ahmad Sheikh Haji Mohammad Said al-Linggi serta Hari Terbuka Tariqat Ahmadiyah Rasyidiyah Dandarawiyah akan diadakan seperti berikut.
[float=right][/float]
Hari Terbuka Tariqat Ahmadiyah
Hari: Sabtu
Masa: 8.30am-7.00pm
Tarikh: 23 Julai 2011

Aturcara:

8.30 pagi
- Pendaftaran keahlian Tariqat Ahmadiyah.
- Pemeriksaan Kesihatan Bersama Hospital Tuanku Jaafar.
- Pameran dan Gerai Jualan.

10.00 pagi
- Sessi bersama Dato' Sheikh Haji Murtadza Bin Sheikh Haji Ahmad - Khalifah Tariqat Ahmadiyah & Mantan Mufti Besar Negeri Sembilan.
- Taklimat Projek Pusat Pengamalan Tariqat Tasawuf bagi Tariqat Ahmadiyah.
- Pelancaran Buku "Pengantar Tariqat Ahmadiah" dan penyerahan buku resit waqaf.
- Perasmian Gerai Jualan, Kedai cenderamata, serta jualan buku dan kitab.
- Jamuan
[float=left][/float]
Majlis Hol Sheikh Haji Ahmad

1. Solat Maghrib berjemaah.
2. Majlis Hol Sheikh Haji Ahmad Bin Sheikh Haji Muhammad Said.
3. Solat Isya' berjemaah.
4. Jamuan dan bersurai.

Semua Ikhwan di jemput hadir.

Wassalamu 'alaikum wrt. wbt.
4
Tazkirah & Muhasabah / Al-Fatihah: Raja Aziz Addruse
« Last post by Abu Fahim on 12.07.2011, 03:13:33 PM »
[float=right][/float]Top lawyer Raja Aziz Addruse dies at 75
July 12, 2011
[float=left][/float]
KUALA LUMPUR, July 12 -- Raja Aziz Addruse, one of the country's most distinguished and respected lawyers, died today after a long illness. He was 75.

He was elected a commissioner of the Geneva-based International Commission of Jurists (ICJ) in 2006. Raja Aziz was the third Malaysian to be elected to this prestigious post after former Lord President Tun Mohd Suffian Hashim and senior lawyer Param Cumaraswamy.

Raja Aziz was elected Bar Council president three times, the first from the 1976-1978, then 1988-1989 and then for the 1992-1993 term.

He appeared before the courts in a variety of high-profile human rights and rule-of-law cases. He was the lead counsel for Datuk Seri Anwar Ibrahim's Sodomy I case.

He was also a member of the Malaysian National Society of Human Rights.

He studied law at the University of Bristol.

Reported by Malaysian Insider online at http://www.themalaysianinsider.com/malaysia/article/top-lawyer-raja-aziz-addruse-dies-at-75/.

More on his previoius appointment as ICJ Commissioner in 2006 in Malaysian Bar and ICJ website:
http://www.malaysianbar.org.my/bar_news/berita_badan_peguam/raja_aziz_addruse_elected_commissioner_of_icj.html
http://www.malaysianbar.org.my/bar_news/berita_badan_peguam/raja_aziz_elected_into_icj.html
http://www.icj.org/getStaffDetails.asp?usersID=110

More news:
http://www.malaysianbar.org.my/in_memoriam/in_memoriam_yang_mulia_raja_aziz_addruse.html
http://www.malaysianbar.org.my/legal/general_news/raja_aziz_a_quiet_man_of_principles.html
5
Tazkirah & Muhasabah / Muhasabah: Peludah Warna
« Last post by Abu Fahim on 06.07.2011, 02:07:30 PM »
[float=left][/float]
Peludah Warna
[float=right][/float]
Kuasa gusar kini menggelegak murka;
warna kuning diisytihar racun terbisa.
Diragutnya baju-T segeram tenaga
dan diumum itulah busana bahaya.

Tapi, kita jahit semula perca kain,
menjadikannya panji terindah dan tulen.
Warna kuning yang teramat tenang dan syahdu
kita kembalikan damai ke dalam qalbu.

Kini cahaya mentari mungkin diramas
dan sinar kuningnya juga mungkin dicantas.
Memanglah mereka kini peludah warna
sedang menghimpun lendir kahak sebanyaknya.

Kerana nikmat amat lama berkuasa,
kuasa pun seolah menjadi hartanya.

1. 7. 11. A. SAMAD SAID
6
Tazkirah & Muhasabah / Muhasabah: Unggun Bersih
« Last post by Abu Fahim on 27.06.2011, 01:29:00 PM »
[float=left][/float]
Unggun Bersih

Semakin lara kita didera bara -
kita laungkan juga pesan merdeka:
Demokrasi sebenderang mentari
sehasrat hajat semurni harga diri.

Lama resah kita - demokrasi luka;
lama duka kita - demokrasi lara.
Demokrasi yang angkuh, kita cemuhi;
suara bebas yang utuh, kita idami!
[float=right][/float]
Dua abad lalu Sam Adams berseru:
(di Boston dijirus teh ke laut biru):
Tak diperlu gempita sorak yang gebu,
diperlu hanya unggun api yang syahdu.

Kini menyalalah unggun sakti itu;
kini merebaklah nyala unggun itu.

24--25, 6.11.
A. SAMAD SAID
7
Tazkirah & Muhasabah / Tazkirah: Jahil Tapi Berfatwa?
« Last post by Abu Fahim on 25.05.2011, 12:32:30 PM »
Assalamu'alaikum Wrt. Wbt.

Segala puji bagi Allah SWT yang menurunkan kepada para hambaNya kitab Al-Quran yang tiada padanya keraguan atau kesesatan melainkan orang-orang yang mempelajarinya tanpa berguru dengan yang hak. Selawat dan Salam ke atas Nabi kita dan Tuan kita Nabi Muhammad SAW, doa yang menyelamatkan kita di dunia dan akhirat, juga ke atas sekelian ahli keluarga, para sahabat dan sekelian pengikut Baginda SAW sehingga ke hari pembalasan kelak.


Para pembaca yang budiman,

Topik kali ini dipetik daripada Grup Tahu Faham & Amal dengan tajuk asalnya: Peringatan Kepada Orang Yang Jahil Namun Berani Mengeluarkan Fatwa Tentang Hukum Hakam Agama. Semoga kita semua diberikan petunjuk oleh Allah SWT ke arah jalan yang lurus lagi diberikan nikmat ke atas mereka seperti jalan para Nabi, Siddiqin, Syuhadak dan orang-orang Soleh sekeliannya. Amin.


= Artikel Bermula =
Sudah terdapat segelintir individu  samada melalui Facebook,  forum soal jawab agama, blog dan melalui saluran yang ada di internet mahupun di luar sana yang amat berani mengeluarkan 'fatwa' dan pendapat sendiri dengan terus mengambil melalui Al-Quran dan Al-Hadith walaupun dalam keadaan jahil dan kekurangan ilmu-ilmu alat yang penting sebelum melayakkannya mengeluarkan sebarang pendapat mengenai hukum hakam agama.

Bagaimanakah  adabnya para Salafussoleh (mereka yang hidup di 3 kurun terbaik seperti yang dinyatakan oleh Rasulullah SallaLlahu 'alaihi wasallam) sebelum berani mengeluarkan fatwa?

Dari AbduLLah ibn Amr radiyaLLahu 'anhu bahawa RasuluLlah sallaLLahu 'alaihi wasallam bersabda yang bermaksud :

"ALLah subhanahu wa ta'ala tidak akan mengangkat ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari hati ulama, tetapi dengan cara mematikan mereka, dan jika sudah tidak ada lagi seorang ulama yang masih hidup, maka manusia akan mengangkat pemimpin di kalangan orang-orang yang jahil (bodoh), jika (para pemimpin tersebut ditanya tentang kemusykilan agama) maka mereka akan berfatwa tanpa dasar ilmu, dengan itu mereka menjadi sesat dan menyesatkan." (Riwayat Bukhari dan Muslim)



(Sheikh) Professor Dr Yusuf Al-Qardhawi dalam kitabnya Al-Fatwa Bayna Al-Indibat at-Tasayyub (Fatwa Antara Ketelitian Dan Kecerobohan) menyatakan seorang mufti atau faqih yang menempati kedudukan Rasulullah sallaLlahu 'alaihi wasallam dalam menyampaikan ketentuan hukum hakam Allah mesti mempunyai kapasiti (kemampuan) yang besar tentang ilmu-ilmu Islam. Antaranya:

1. Merangkumi selok-belok Bahasa Arab.

2. Pemahaman yang benar dan pengetahuan yang cukup tentang serba serbi kehidupan dan corak ragam manusia.

3. Kepakaran yang handal dalam menggali dan merumuskan suatu hukum berdasarkan kaedah-kaedah ijtihad.



Siapakah antara ciri-ciri mereka yang dilarang untuk berfatwa? Mereka ialah:

1. Orang yang tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan tentang Bahasa Arab dengan selok beloknya termasuk ayat dan sasteranya agar membolehkannya memahami al Quran dan As-Sunnah tidak dibenarkan memberikan fatwa kepada manusia.

2. Orang yang tidak arif dan mengerti pendapat para ulamak terdahulu dari berbagai mazhab feqah dan tidak mengerti methodologi pengambilan hukum dan hal-hal yang berkaitan dengannya seperti mengetahui perkara-perkara yang disepakati bersama atau masih dalam pertikaian tidak dibolehkan mengeluarkan fatwa.

3. Orang yang tidak memiliki kepakaran dalam bidang Usul Feqah seperti mengenali Al-Qiyas dan Al-Illah; pada situasi apakah Al-Qiyas dibolehkan dan pada situasi apakah Al-Qiyas tidak dibenarkan.

4. Orang yang tidak menghayati pendapat para fuqahak yang tercantum dalam kitab-kitab mereka secara mendalam.

5. Orang yang tidak memiliki kepakaran dalam melakukan penelitian ke atas perbezaan pendapat di antara mereka dan mengenalpasti kaedah yang digunakan mereka dalam menggali hukum hakam syarak.



Al-Hafiz Al-Khatib Al-Baghdadi meriwayatkan dalam kitabnya "Al-Faqih Wal-Mutafaqqih" dari Al-Imam Syafi'e radiyaLlahu anhu berkata:
"Tidak dihalalkan bagi seseorang berfatwa mengenai agama Allah, kecuali seorang yang arif dengan Kitab Allah (Al-Quran), Nasikh dan Mansukh, Muhkam dan Mutasyabih, Ta'wil dan Tanzil, Makkiyah dan Madaniyyahnya; Apa yang dimaksudkan dengan satu-satu ayat; dalam masalah apa ia diturunkan. Selain itu, dia juga mesti menguasai hadith Rasulullah sallaLlahu 'alaihi wasallam; Nasikh dan Mansukhnya. Pengetahuannya mengenai hadith Nabi sallaLlahu 'alaihi wasallam mesti setaraf pengetahuannya mengenai Al-Quran. Dia mesti juga menguasai Bahasa Arab; arif akan selok belok sya'ir, dan disiplin ilmu yang lain yang diperlukan untuk memahami Al-Quran.

Di samping itu, dia juga mesti menahan diri daripada (seronok) bercakap. Dia dituntut juga untuk memahami perbezaan pendapat di kalangan para ulama, selain harus memiliki kemampuan atau kepakaran dalam mengambil ketentuan hukum (istinbat). Jika semua syarat-syarat ini telah dimilikinya, maka barulah boleh baginya bercakap dan berfatwa tentang halal dan haram. Namun jika belum sampai pada darjat ini, dia hanya boleh membincangkan tentang ilmu pengetahuan, tetapi tidak dibenarkan untuk berfatwa."
(Al-Faqih wal-Mutafaqqih, Juz 2, hlm 157, Cetakan Riyadh, Saudi Arabia)


Imam Ahmad Ibn Hanbal RadiyaLlahu anhu telah memberikan panduan dalam masalah ini, katanya:
"Seseorang tidak boleh menawarkan dirinya untuk berfatwa sebelum ada pada dirinya lima perkara:

Pertama: Mempunyai niat yang ikhlas. Sebab jika tiada niat (ikhlas), dia tidak akan mendapat cahaya (petunjuk) dalam melakukan fatwanya.

Kedua: Hendaklah dia mempunyai sifat kasih, rendah hati (tawadhuk) dan ketenangan jiwa.

Ketiga: Mempunyai keyakinan yang teguh dengan tugasnya dan memahami betul soalan yang sedang dihadapinya.

Keempat: Hidupnya dalam kecukupan, kerana jika tidak, dia akan dipengaruhi oleh orang yang berkepentingan.

Kelima: Mempunyai maklumat yang cukup tentang adat- istiadat dan selok belok kehidupan manusia."
(Ibn Battutah, disalin oleh Ibn Qayyim dalam "Ilamul Muwaqqi'in" Juz 4 Hlm 199)


Larangan orang yang berfatwa tanpa dasar ilmu (jahil)

Imam Abu Hanifah radiyaLlahu anhu berpendapat :
"Wajib menghalang orang bodoh (mufti jahil) dan orang yang mempermainkan agama dari mengeluarkan fatwa".


Seorang lelaki pernah melihat Rabi'ah Ibn Abd Rahman, guru kepada Imam Malik sedang menangis, lalu ditanya:
"Hal apakah yang menyebabkan tuan menangis? Jawabnya: Ada seorang yang telah diminta untuk berfatwa, walhal dia tidak mengerti apa-apa dan fatwanya itu telah memudaratkan umat Islam, kerana itu, katanya lagi: "Sebahagian mufti lebih berhak masuk penjara daripada para pencuri."


Ibn Qayyim meriwayatkan dari beberapa ulama sezamannya:
"Bagaimana jika Rabi'ah menyaksikan zaman kita ini, dimana orang yang tidak berilmu berani memberikan fatwa dengan modal kejahilan dan keberanian semata-mata, pengalaman yang sedikit dan pengetahuan yang dangkal, tambahan pula memiliki sejarah hidup yang tidak elok dan tidak dikenal di kalangan para ulama. Pengetahuannya tentang Al-Quran, As-Sunnah dan ilmu-ilmu ulamak salaf sangat cetek dan dangkal. (Ibn Qayyim, I'lamul Muwaqqi'in, Juz 4, hlm 207-208)


Abu 'Abdillah Ibn Battutah meriwayatkan dari Al-A'masy dari Syaqiq dari Abdullah Ibn Mas'ud radiyallahu anhu berkata:
"Demi Allah, seseorang yang memberi fatwa bagi setiap soalan adalah orang gila!"

 

Al Hakam pernah berkata kepada Al-A'masy setelah mendengar riwayat tadi:
"Jika aku mendengar hadith tersebut dari dahulu lagi, nescaya aku tidak akan banyak berfatwa seperti apa yang telah aku lakukan selama ini". Kemudian Abu 'Abdillah menambahkan: Ini Abdullah Ibn Mas'ud bersumpah dengan nama Allah bahawa sesiapa berfatwa untuk setiap soalan adalah orang gila, sumpah beliau pasti benar, kalau begitu kebanyakan mufti pada zaman kita ini sudah menjadi gila! Mengapa? Kerana setiap mufti yang ditanya akan langsung memberi jawapan, tanpa berfikir lebih jauh atau berkata tidak, atau takut kerana Allah Subahanahu Wa Ta'ala (jika fatwanya salah), atau tidak takut untuk disoal balik: "Dari mana jawapan ini kami dapat? Akan tetapi yang paling mereka takuti dan gerun adalah sindiran bahawa dia tidak dapat menjawab soalan.

Pada hakikatnya dia telah melakukan perbuatan yang sangat besar yang tidak mampu dilakukan oleh orang yang lebih tinggi, luas dan dalam ilmu agamanya daripada dirinya, dan dia telah melakukan satu praktik perubatan yang tidak mampu dilakukan oleh seorang doktor yang sangat pakar."



Rujukan: (Sheikh) Professor Dr Yusuf Al-Qardhawi, Al-Fatwa Bayna Al-Indibat At-Tasayyub, (Fatwa & Antara Ketelitian & Kecerobohan), 1996, Thinker's Library, Selangor.
= Artikel Tamat =


Para pembaca yang dirahmati Allah sekelian,

Hendaknya kita selalu insaf akan segala kelalaian, kesilapan dan kesalahan kita dan senantiasalah bermuhasabah dan memperbaiki diri kita! Semoga Allah SWT melindungi kita semua daripada lalai dan leka, juga daripada maksiat dan berdosa. Senantiasalah kita bertaubat kembali kepadaNya dan mengajak sekelian ahli keluarga serta masyarakat kita bersama-sama bertaubat kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang berjaya di dunia dan akhirat senantiasa memeriksa diri dan perbuatan mereka, kemudiannya memperbaiki diri, keluarga dan masyarakatnya, serta memastikan segalanya senantiasa berada di jalan yang lurus lagi diredhai Allah SWT.

Allahu Wa Rasuluhu A'lam.

8
Tazkirah & Muhasabah / Tazkirah: Sumpah Fitnah - Fatwa Al-Qardhawi
« Last post by Abu Fahim on 23.05.2011, 01:11:11 PM »
Terjemahan Teks Fatwa Syeikh Dr Yusuf Al-Qardhawi
Mengenai Sumpah Fitnah


Soalan:

Bolehkah Syeikh jelaskan kedudukan kes fitnah serta pertuduhan ke atas saudara Anwar Ibrahim seperti yang dilakukan oleh sesetengah pihak di mana ianya dilakukan tanpa bukti dan saksi (menurut syara'). Apakah pandangan syara' mengenai hal ini?


Jawapan:

Dengan nama Allah, Maha Pengasih Maha Penyayang.

Segala pujian untuk Allah SWT, selawat dan salam untuk RasulNya SAW serta keredhaan Allah buat orang yang mengikut sunnah dan bimbingan baginda SAW.

Syariat Islam diturunkan untuk melindungi kepentingan manusia, menjaga agama, nyawa, harta, maruah dan nama baik seseorang. Ini terkandung dalam Maqasid Shariah (matlamat syara`) di mana Islam melindungi kepentingan asas manusia iaitu nyawa, akal, harta, keturunan serta nama baik orang ramai.

Rasulullah SAW menegaskan dalam hadis baginda bermaksud:

"Setiap orang Islam haram menceroboh orang Islam yang lain; Haram menceroboh nyawanya, hartanya dan maruahnya".


Dalam hadis tadi, baginda SAW menegaskan dengan jelas tentang pengharaman perkara-perkara tersebut itu. Sebaliknya Islam mengajar agar tiap orang melindungi dan menjaga maruah orang lain. Malah jika benar pun seseorang itu telah melakukan kesalahan, Islam menuntut agar ia tidak dihebahkan atau digembar-gemburkan tapi dilindungi (dirahsiakan sehingga diputuskan di mahkamah) demi menjaga maruah seseorang itu (selagi keputusan muktamad belum dicapai).

Dalam sebuah kisah (hadith), Rasulullah SAW bersabda kepada orang (sahabat) yang menasihati Mai'z agar datang menemuinya untuk membuat pengakuan zina dengan katanya:

"Mengapa tidak engkau tutup sahaja perkara ini dengan pakaian kamu. Andai saja engkau sembunyikan perkara itu, tentu ia lebih baik bagi kamu."


Al-Quran menjelaskan dalam Surah An-Nur (24:19) -

"Sesungguhnya orang-orang yang suka tersebarnya kebejatan di kalangan orang yang beriman, untuk mereka seksa yang amat pedih di dunia dan di akhirat."


Oleh kerana itu Islam menetapkan hukuman yang amat berat terhadap orang yang mengaibkan orang lain atau menceroboh maruah dan nama baik orang lain. Islam telah menetapkan tiga jenis hukuman terhadap orang yang melakukan fitnah keatas orang lain iaitu; hukuman fizikal, hukuman moral dan sosial serta hukuman spiritual.

Firman Allah SWT dalam surah An-Nur (24:4) -

"Orang yang menuduh (wanita) orang Islam lain dgn tuduhan zina tapi tidak mengemukakan empat orang saksi maka sebatlah dia sebanyak 80 kali. Dan janganlah kamu terima persaksiannya buat selama-lamanya. Dan mereka itu orang yang fasiq (pembohong atau pendusta)!"


Ulama sepakat mengatakan tuduhan zina kepada lelaki muslim sama hukumannya dengan tuduh zina terhadap wanita muslimah. Ulamak juga sepakat bahawa tuduhan liwat adalah sama dengan zina. Dalam hal ini lumrahnya tuduhan zina ini (seperti lafaz ayat) ditujukan kepada golongan wanita. Namun jika ada sesiapa yang menuduh orang lelaki yang berbuat demikian maka menurut ijma' Ulamak ia termasuk dalam lingkungan makna ayat ini.

Hukuman fizikal yang dimaksudkan ialah 80 kali sebat. Manakala hukuman moral dan sosial ialah dengan menolak kesaksiannya buat selama-lamanya. Imam Abu Hanifah menegaskan bahawa walaupun orang berkenaan sudah bertaubat namun hukuman ini tetap berlaku dan berkuat kuasa iaitu ia tidak boleh menjadi saksi selama-lamanya. Adapun hukuman agama pula adalah ia dianggap sebagai orang yang fasiq.

Sebenarnya (sepatutnya) tidak akan ada orang yang berani berbuat demikian, iaitu menuduh dan memfitnah orang lain dengan tuduhan palsu melainkan orang yang fasiq atau rusak agama.

Sehubungan dengan ini Al-Quran menceritakan dengan agak terpeinci sebuah peristiwa yang dikenal sebagai "Hadith Al-Ifk" (kisah fitnah). Peristiwa yang berlaku di Madinah ini melibatkan isteri kesayangan Rasulullah SAW sendiri, anak Abu Bakar As-Siddiq RA (Khalifah Pertama) dan sahabat paling rapat dengan Rasulullah SAW. Beliau adalah Ummul Mukminin (ibu orang-orang beriman) Aisyah RA. Aisyah RA telah dituduh secara jahat oleh orang yang tidak bertanggungjawab yang kononnya ia telah berzina dengan seorang sahabat yang soleh serta terkenal baik dan tidak pernah bersikap serong serta berbuat jahat.

Cerita palsu ini berkembang dengan cepat dari bibir ke bibir dan menjadi perbualan ramai. Hampir sebulan lamanya perkara ini merebak di Madinah sehinggalah Allah SWT menurunkan ayat-ayat Al-Quran membersihkan nama baik Aisyah RA dari angkara fitnah ini. Ayat tersebut menyelar golongan munafiq yang melakukan kerja jahat tersebut. Ayat ini juga menegur masyarakat umat Islam ketika itu kerana tidak bertindak membendung fitnah yang menular itu di peringkat awal dengan tegas.

Allah SWT berfirman dalam surah An-Nur (24:11) -

"Sesungguhnya orang yang membawa berita bohong (palsu) itu adalah dari kalangan kamu juga. Janganlah kamu menganggapnya buruk bahkan sebenarnya ada kebaikan untuk kamu. Setiap orang akan memikul dosa perbuatannya. Manakala orang yang paling besar peranannya dalam hal ini dari kalangan mereka pasti akan mendapat balasan azab yang paling besar pula."


Yang memikul dosa besar dalan hal ini adalah kepala mereka iaitu Abdullah Bin Ubai Bin Salul, bapa kaum munafiq. Dialah yang mengheboh-hebohkan khabar angin ini. Dialah yang menyebutkan -

"Demi Allah! Aisyah tidak selamat dari rangkulan orang itu dan orang itu pun tidak selamat dari godaan Aisyah."
(Ini satu bentuk sumpah fitnah yang secara tidak langsung menuduh sahabat Nabi SAW dan isteri Baginda, Aisyah RA - Ummul Mukminin melakukan zina. Na'uzubillahi min zalik!)


Fitnah ini berterusan memamah nama baik Saiyidatina Aisyah RA untuk beberapa lama hinggalah Al-Quran menegaskan dalam Surah An-Nur (24:12) -

"Sepatutnya apabila kamu mendengar cerita seperti ini, orang mukmin lelaki dan perempuan perlu menyangka yang baik dan sopan terhadap sesama sendiri lantas mengatakan; ini adalah pembohongan yang nyata."


Ertinya - sepatutnya kamu menolak fitnah itu sejak awal-awal lagi dengan menekankan tentang dosanya dan perlunya orang berkenaan membawa dan menampilkan 4 orang saksi.

Allah SWT menegaskan dalam ayat berikutnya juga di surah An-Nur (24:13) -

"Seandainya mereka tidak menampilkan para saksi (seramai empat orang yang adil) maka orang-orang itu adalah golongan pendusta."


Al-Quran mensyaratkan 4 orang saksi (yang adil) dalam kes yang berkaitan dengan maruah dan kehormatan diri. Dan sememangnya Islam bersikap keras dan tegas dalam hal yang melibatkan maruah serta nama baik orang lain.

Berbeza dengan kes berkaitan dengan harta maka Islam memadai dengan dua orang lelaki sebagai saksi atau seorang lelaki dan dua orang perempuan sebagai saksi.

Dalam kes berkaitan dengan maruah seperti fitnah ini, Islam mensyaratkan mesti dibawa empat orang saksi. Al-Quran menjelaskan "Seandainya mereka tidak menampilkan para saksi maka merekalah golongan pembohong".

Al-Quran menjelaskan lagi dalam ayat yang berikutnya An-Nur (24:14) -

"Kalaulah tidak kerana kurnia Allah dan rahmatNya kepada kamu di dunia dan akhirat nescaya kamu ditimpa azab yang besar akibat perbuatan kamu itu."


Maksudnya - Kerana rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada kamu maka kamu tidak digegar dan ditelan bumi ataupun dilanda dengan bencana taufan dan sebagainya sepertimana yang dialami oleh umat-umat sebelum ini (atau seperti di negara-negara lain yang telah kita saksikan akhir-akhir ini).

Al-Quran menegaskan lagi An-Nur (24:15) -

"Ketika kamu menerima fitnah tersebut dengan lidah kamu dan kamu menyambungnya dengan pertuturan mulut kamu sesuatu yang kamu sendiri tidak tahu, malah kamu menyangkanya perkara kecil (menyambung cerita fitnah) pada hal di sisi Allah perkara itu adalah suatu yang amat besar."


Al-Quran memberikan pertunjuk yang cukup indah - Alangkah baiknya ketika mula kamu mendengar fitnah itu, kamu mengatakan "tidak wajar kita menghebahkan perkara ini. Maha suci Allah. Ini semata-mata pembohongan yang besar".

Allah SWT menegaskan dalam surah An-Nur (24:16-17) -

Di mana Allah SWT mengingatkan : "Alangkah baiknya ketika kamu mula mendengar khabar angin atau fitnah seperti itu kamu lantas berkata: Tidak wajar kita membicarakan perkara seperti ini; Maha suci engkau (Ya Allah!) Ini memang pendustaan dan pembohongan yang besar. Allah menasihatkan kamu agar jangan sekali-kali mengulangi perbuatan seperti ini buat selama-lamanya, seandainya kamu benar-benar orang yang beriman."


Dalam ayat berikutnya Allah SWT berfirman (an-Nur 24:18) -

"Allah menjelaskan kepada kamu ayat-ayat hukumnya. Allah Maha Mengetahui Maha Bijaksana".


Kes pertuduhan seperti ini adalah suatu yang serius dan besar dalam ajaran syariat Islam; lebih-lebih lagi terhadap orang Islam. Perbuatan melemparkan pertuduhan palsu seperti ini menurut Islam adalah merupakan dosa besar dan haram hukumnya.

Umat Islam perlu mengelak diri dari mencemarkan maruah dan nama baik orang lain yang tidak bersalah. Kecuali jika benar benar ada bukti dan keterangan yang sah dan nyata dengan membawa saksi-saksi yang cukup seperti yang dikehendaki oleh syara'.

Inilah nasihat saya kepada umat Islam di Malaysia. Mereka perlu takut kepada Allah. Janganlah menuduh, memfitnah secara membuta tuli, merosakkan maruah dan nama baik orang kerana menurut hawa nafsu atau menurut dorongan politik dan golongan tertentu yang suka mendorong orang lain melakukan kejahatan seperti itu dengan menggunakan media massa dan sebagainya.

Kalau tidak, mereka harus ingat bahawa pengawasan Allah SWT terhadap kejahatan seperti itu tidak pernah luntur atau luput. Allah mungkin membiarkan atau memberi tempoh dan penangguhan masa untuk menjatuhkan hukumanNya; namun Allah tidak pernah lupa atau cuai untuk berbuat demikian bila sampai masanya. Allah berfirman dalam Surah Ibrahim (14:42) -

"Jangan kamu menyangka Allah lalai tentang apa yang dilakukan oleh golongan yang zalim itu"


Saya menasihatkan anak-anak saya rakyat Malaysia lelaki dan perempuan agar jangan mudah menceroboh maruah orang Islam yang lain. Lebih-lebih lagi terhadap orang yang memang terkenal baik, dihormati, berakhlak mulia dan luhur, seorang pendakwah yang berbudi pekerti mulia di dunia Islam; seperti saudara Anwar Ibrahim dan lain-lain.

Amat jelas, bahawa pertuduhan terhadap beliau adalah bermotifkan muslihat politik serta dilakukan oleh orang-orang yang memandang ringan perbuatan mengaibkan orang dengan tuduhan jahat seperti itu.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-An'am (6:144) -

"Siapakah yang lebih zalim dari orang yang melakukan pembohongan terhadap Allah untuk menyesatkan orang ramai tanpa ilmu pengetahuan. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada golongan yang zalim!"


Saya berdoa agar Allah SWT mendedahkan hakikat yang sebenarnya. Saya mohon agar Allah SWT menangkan yang hak serta benar dan menumpaskan kebatilan yang batil. Saya berdoa agar Allah SWT menyatakan kebenaran saudara Anwar Ibrahim. Agar Allah SWT bebaskan beliau dari pertuduhan jahat ini. Biarlah Allah SWT dedahkan konspirasi orang-orang yang memburuk-burukkan beliau dan menyibarkan pembohongan dan fitnah di kalangan orang ramai secara tidak bertanggongjawab dan tidak takut melakukan dosa serta penderhakaan yang nyata kepada Allah SWT.

Insya Allah! Ketahuilah bahawa kebenaran tidak akan hilang atau tumpas, justeru Allah SWT pasti akan memenangkan yang hak dan benar, Allah SWT akan menumpaskan kebatilan walaupun golongan petualang tidak suka dan benci. Allah SWT berfirman dalam surah Al-Isra' (17:81) -

"Dan katakanlah: Telah tiba kebenaran dan telah lenyap kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti akan lenyap!"


Sekian, wassalamu alaikum warahmatullah wabarakatuh!
9
Tazkirah & Muhasabah / Muhasabah: Lagi Mengenai Solat
« Last post by Abu Fahim on 07.05.2011, 06:46:23 PM »
Assalamu'alaikum Wrt. Wbt.

Segala puji bagi Allah SWT yang menurunkan kepada para hambaNya kitab Al-Quran yang tiada padanya keraguan atau kesesatan melainkan orang-orang yang mempelajarinya tanpa berguru dengan yang hak. Selawat dan Salam ke atas Nabi kita dan Tuan kita Nabi Muhammad SAW, doa yang menyelamatkan kita di dunia dan akhirat, juga ke atas sekelian ahli keluarga, para sahabat dan sekelian pengikut Baginda SAW sehingga ke hari pembalasan kelak.


Para pembaca yang budiman,

Kali ini, saya mempelawa semua sama-sama menikmati curahan ilmu dan limpahan kefahaman mengenai solat daripada Yang Berbahagia Al-Fadhil Ustaz Azhar Bin Idrus. Oleh kerana keseluruhan video ini agak panjang dan jelas, saya tidak perlulah saya mengulas panjang lebar di sini. (Pastikan anda mematikan lagu tema laman ini (jika ia kedengaran) dengan menekan butang di atas.) Marilah bersama-sama menonton video di bawah ini:

[youtube]wUpcOrnt4-o[/youtube]    [youtube]MXmpswr79oQ[/youtube]

[youtube]dTRgv1tfI4U[/youtube]    [youtube]iFzF3MeP7nw[/youtube]

[youtube]Tg4rZ4USsFk[/youtube]    [youtube]GMrpiDr_DjY[/youtube]

[youtube]haBk-J8xjkk[/youtube]    [youtube]XC-9TS74pcg[/youtube]

Para pembaca yang dirahmati Allah sekelian,

Hendaknya insaflah akan segala kelalaian, kesilapan dan kesalahan kita dan senantiasalah bermuhasabah dan memperbaiki diri kita! Semoga Allah SWT melindungi kita semua daripada lalai dan leka, juga daripada maksiat dan berdosa. Senantiasalah kita bertaubat kembali kepadaNya dan mengajak sekelian ahli keluarga serta masyarakat kita bersama-sama bertaubat kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang berjaya di dunia dan akhirat senantiasa memeriksa diri dan perbuatan mereka, kemudiannya memperbaiki diri, keluarga dan masyarakatnya, serta memastikan segalanya senantiasa berada di jalan yang lurus lagi diredhai Allah SWT.

Allahu Wa Rasuluhu A'lam.
10
Tazkirah & Muhasabah / Tazkirah: Sumpah Munafiq - Haram Bersekongkol?!
« Last post by Abu Fahim on 02.05.2011, 06:53:01 AM »
Assalamu'alaikum Wrt. Wbt.

Segala puji bagi Allah SWT yang menurunkan kepada para hambaNya kitab Al-Quran yang tiada padanya keraguan atau kesesatan melainkan orang-orang yang mempelajarinya tanpa berguru dengan yang hak. Selawat dan Salam ke atas Nabi kita dan Tuan kita Nabi Muhammad SAW, doa yang menyelamatkan kita di dunia dan akhirat, juga ke atas sekelian ahli keluarga, para sahabat dan sekelian pengikut Baginda SAW sehingga ke hari pembalasan kelak.


Para pembaca yang budiman,

Dalam surah Al-Munafiqun ayat 2, Allah SWT berfirman yang mafhumnya: "Mereka (orang-orang munafiq) menjadikan sumpahnya (atau akuannya) sebagai perisai (untuk menyelamatkan dirinya dan harta bendanya; atau sebagai senjata menyerang orang lain dan harta benda mereka), lalu mereka menghalang (dirinya dan orang lain) dari menurut jalan Allah. Sesungguhnya amatlah buruk apa yang mereka telah kerjakan."

Saya melihat perkara ini sebagai sesuatu yang amat jelas, terang lagi bersuluh, bahawa sumpah bukanlah sesuatu yang boleh dipermainkan atau dijaja. Bahkan ini jelas bertentangan dengan prinsip keadilan dalam perundangan Islam atau Syariah. Tiada satu pun prinsip dalam perundangan Islam yang menghalalkan seseorang menuduh seseorang yang lain hanya dengan menggunakan sumpah yang dibuat di luar mahkamah; melainkan secara IJMA' menetapkan ia WAJIB dilaksanakan HANYA di Mahkamah dengan saksi-saksi dan keterangan-keterangan yang kredibel atau dipercayai menurut cara dan kaedah yang ditetapkan menurut syara' dalam Islam.

Ini selari dengan apa yang disebut oleh Nabi Muhammad SAW bahawa: "(Beban pembuktian dengan memberikan) penyaksian (dan lain-lainnya) adalah di atas wajib mereka yang mendakwa (yakni yang membuat tuduhan). (Hanya selepas ia dibuktikan di Mahkamah dengan keadah dan cara yang ditetapkan maka barulah dikehendaki memberikan) penjelasan (dan bukti-bukti sebagai jawapan) adalah di atas mereka yang menginkarinya (sama ada yang tertuduh atau selainnya)."


Para pembaca yang dihormati,

Mengulas mengenai tragedi dan bala fitnah akibat memperdagangkan sumpah di Malaysia hari ini, kita diberi peluang oleh Allah SWT untuk mengenal ulamak dunia yang bertindak tidak berpandukan ilmu atau menyelewengkannya dan ulamak akhirat yang jujur dan ikhlas berpegang kepada agama Allah. Perkataan ulamak dunia atau jahat bahkan ulamak akhirat atau baik telah lama ada dalam Islam dan dibicarakan secara khusus di dalam kitab Ihya Ulumiddin oleh Al-Imam Al-Ghazali rh.

Sabda Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadith yang masyhur yang bermaksud: "Barangsiapa melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dan mencegahnya dengan menggunakan kuasanya, sekiranya ia tidak sesuai dengan kemampuannya, maka hendaklah ia menggunakan tangannya, sekiranya ia tidak sesuai dengan kemampuannya, maka hendaklah ia menggunakan hatinya. Sesungguhnya mengubah dan mencegah perbuatan mungkar dan pelakunya sekadar dengan menggunakan hati itu adalah tanda selemah-lemah iman."

Dilihat daripada hadith ini sahaja sudah jelas akan peranan ulamak akhirat berbanding ulamak dunia bahawa mereka mesti mencegah kemungkaran dan mengubahnya dengan ketiga-tiga kaedah dan cara yang disarankan. Sebagai pewaris para Nabi Allah, amatlah lemah sekali bagi mereka ini sekiranya jalan yang mereka pilih adalah diam membatu membisu seribu bahasa. Paling tidak pun, gelenglah kepala tanda tidak bersetuju.

Pun begitu, berdiam tapi menolak dalam hati atau dengan gelengan lemah sebegitu tidaklah mengapa jika dibandingkan dengan ulamak dunia yang senantiasa mencari publisiti dan "glamor" yang tidak tentu hala tetapi tiada ilmu dan kefahaman atau tidak menurut disiplin ilmu dan kefahaman menurut Islam. Satu, tiada ilmu khususi dalam bidang perundangan Islam, tetapi memberikan nasihat dan pandangan agama mengenainya seolah-olah tahu dan faham mengenainya. Justeru, dia sendiri telah sesat dan bakal menyesatkan orang ramai. Kedua, ada ilmu yang khususi dalam bidang perundangan Islam, tetapi memberikan nasihat dan pandangan bertentangan dengan ilmu yang dia tahu dan faham mengenainya. Justeru, dia juga telah sesat dan bakal menyesatkan orang ramai.

Mereka daripada ulamak dunia itu diibaratkan seumpama hakim dalam hadith Buraidah RA yang melaporkan bahawa Rasulullah SAW bersabda: "Hakim ada tiga jenis. (Daripadanya) dua masuk neraka dan yang satu masuk surga. Hakim yang masuk surga adalah hakim yang mengetahui hukum (ada ilmu) yang hak (benar) kemudian memberi keputusan (nasihat dan pandangan) dengan hukum (ilmu) tersebut. Sedangkan hakim yang masuk neraka ialah, (yang pertama:) Hakim yang mengetahui hukum (ilmu) yang benar tetapi curang dalam membuat keputusan (memberikan nasihat dan pandangan); (yang kedua) Hakim yang tidak mengetahui hukum yang benar, kemudian membuat keputusan (memberikan nasihat dan pandangan) dengan kebodohannya (berlagak tahu dan faham tetapi sebenarnya jahil)." ( Hadis Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi)


Para pembaca yang dihormati,

Sesungguhnya telah banyak kali diulang-ulang kata dan tulis oleh para ulamak akhirat, bahawa isu semasa yang membabitkan had zina dan liwat adalah hukum khusus yang mesti mengikut tatacara jenayah menurut perundangan Islam di mana adalah jelas dengan terang lagi bersuluh bahawa setiap tuduhan mengenainya WAJIB dibawa dan dibicarakan HANYA di Mahkamah dan penuduh WAJIB membawakan empat orang saksi yang kredibel dan memberikan pernyataan yang kredibel JUGA di mahkamah.

Barangkali para "ulamak" ini tidak pernah ke mahkamah atau tidak tahu atau tidak sedar atau terlupa bahawa di mahkamah, setiap yang memberikan keterangan wajib bersumpah menurut syara' sebelum keterangan mereka boleh diambil. Keterangan melalui penyaksian saksi-saksi yang diambil ini pula bukan boleh terus diterima mentah-mentah dan bulat-bulat, bahkan ia mestilah boleh diperiksa balas dan disoal siasat bagi membolehkan saksi-saksi dan keterangan mereka dinilai sepenuhnya dan disahkan sebagai saksi-saksi yang adil dan keterangan yang benar.

Kurang jelas lagikah bahawa tanpa melalui proses ini undang-undang akan terus diperkotak-katikkan, dipermain-mainkan? Perlukah lagi diulang-ulang bahawa akan bertambah ramai orang yang belum lagi dibuktikan bersalah telah dan akan dirosakkan maruah mereka sebelum kes dibawa ke mahkamah, dibicarakan dan diputuskan?! Ketahuilah, sudah terbukti berdasarkan fakta semasa dan zaman berzaman, sekiranya kezaliman dan kesesatan sumpah munafiq yang tidak dibuat di mahkamah ini tidak ditolak dengan sekuat-kuatnya oleh para ulamak akhirat, kelak akan ada ramai lagi orang yang akan menggunakan sumpah munafiq ini nanti bagi menzalimi orang lain.

Sekiranya, para "ulamak" yang memberikan nasihat dan pandangan, baik menyuruh membuat atau menjawab dengan sumpah biasa apatah lagi dengan sumpah mubahalah, masih lagi berdegil dan enggan mengakui kesalahan, kebodohan atau kecurangan mereka, biarlah mereka sendiri yang bersumpah atas nama Allah SWT bahawa nasihat dan pandangan mereka mengikut hukum syara' atau laknat Allah SWT ke atas mereka. Ingatlah! Sesungguhnya kebenaran itu akan tetap benar bersama pendokongnya dan kebatilan itulah yang akan hancur bersama pembawanya. Justeru, tariklah semula kata-kata bebal dan racun yang menyuruh membuat atau menjawab kepada sumpah munafiq ini.


Para pembaca yang disayangi,

Sebagai seorang hamba Allah yang lemah saya berpendapat, bahawa dalam setiap kes had zina dan liwat, setiap sumpah yang WAJIB dilakukan di Mahkamah adalah HARAM dibuat di luarnya kerana ia jelas berniat jahat dan bersifat fitnah atau qazaf dan bukannya jujur dan ikhlas apabila dibuat di luarnya. HARAM juga membuat / menjawabnya atau menyuruh membuat / menjawabnya kerana ia jelas satu persekongkolan dengan kebodohan, fitnah dan kezaliman, justeru, WAJIB ditolak dengan bersungguh-sungguh. Jelas, sumpah di luar mahkamah hanyalah sekadar sumpah munafiq yang mahukan pertelingkahan berpanjangan dengan tujuan menzalimi dan memalukan orang lain dengan sumpah tersebut. Bahkan ia juga mengandungi unsur penipuan dan dusta serta tidak amanah dalam menyimpan kesaksian dan menyampaikannya menurut ketetapan Allah SWT dan RasulNya.

Saya tahu, sebahagian "ulamak" cuba memberikan pengecualian menggunakan pendekatan syara': "menolak keburukan didahulukan daripada tindakan mensasarkan membawa kebaikan"; tetapi hendaklah mereka insaf, sedar dan ingat bahawa undang-undang had zina dan liwat dalam bab saksi dan penyaksian adalah jelas khusus, maka, kaedah syara' tersebut juga WAJIB ditafsirkan menurutnya. Apa yang "ulamak" tersebut anggap sebagai maslahah yang diberikan pengecualian itu sebenarnya hanyalah sekadar "Maslahah Mulgha" yang ditolak oleh syara' kerana meluputkan "Maslahah Mu'tabarah" dan selainnya yang lebih besar.

Para ulamak fekah telah IJMA' atau sepakat bahawa tidak diharuskan bersumpah (di luar mahkamah) dalam perkara berkaitan had zina dan liwat. Tafsiran yang betul ialah menolak keburukan itu didahulukan menurut kaedah dan ketetapan syara' yang khusus daripada tindakan mensasarkan kebaikan. Justeru, adalah HARAM menerima kesaksian apatah lagi sumpah di luar mahkamah dalam kes-kes zina dan liwat kerana bertentangan secara jelas dan nyata dengan syarat-syarat yang ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasulnya Muhammad SAW.

Seperti yang saya sebutkan di atas, sumpah dan keterangan mestilah dilakukan di mahkamah bagi membolehkan saksi-saksi didengar dan keterangan-keterangan mereka diambil, dinilai dan disahkan (atau ditolak). Sekiranya tidak, yang tertuduh akan terus dizalimi dan difitnah tanpa boleh memeriksa balas setiap kredibiliti dan keterangan para saksi orang-orang yang menuduhnya. Bahkan fitnah dan kezaliman akan terus berleluasa tanpa kesudahan, had dan sempadan jika tiada satu keputusan muktamad daripada mahkamah mengenainya. Ingatlah! Sesungguhnya, Allah SWT, para MalaikatNya, para RasulNya dan seluruh makhluk di langit dan di bumi melaknat orang yang menzalimi orang lain dan mereka yang bersekongkol dengannya.

Janganlah hendaknya para ulamak sendiri yang hilang kepercayaan mereka kepada mahkamah dan perundangan Islam, sebelum para umat yang lain, sedangkan Saidina Umar RA dan Saidina Ali RA sahabat yang besar lagi hebat ketika menjadi khalifah sendiri patuh kepada undang-undang Islam dan mahkamah serta menyerahkan diri dan kes mereka kepada mahkamah untuk kebenaran dan keadilan, bahkan patuh pula kepada keputusannya. Akhirnya, terpulanglah kepada diri sendiri seperti yang dimafhumkan daripada firman Allah SWT, sekiranya mahu kufur, maka kufurlah; tetapi sekiranya mahu beriman, kembalilah sepenuhnya kepada ketetapan Allah SWT dan RasulNya SAW.


Para pembaca yang dirahmati Allah sekelian,

Hendaknya insaflah akan segala kelalaian, kesilapan dan kesalahan kita dan senantiasalah bermuhasabah dan memperbaiki diri kita! Semoga Allah SWT melindungi kita semua daripada lalai dan leka, juga daripada maksiat dan berdosa. Senantiasalah kita bertaubat kembali kepadaNya dan mengajak sekelian ahli keluarga serta masyarakat kita bersama-sama bertaubat kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang berjaya di dunia dan akhirat senantiasa memeriksa diri dan perbuatan mereka, kemudiannya memperbaiki diri, keluarga dan masyarakatnya, serta memastikan segalanya senantiasa berada di jalan yang lurus lagi diredhai Allah SWT.

Allahu Wa Rasuluhu A'lam.
Pages: 12 3 ... 10 next page